Niat Ingin Sehat Atau Malah Sekarat?
KESEHATAN

Niat Ingin Sehat Atau Malah Sekarat?

L

Lidwina

17 April 2026

~ 8 min read
Copyright: Ilustrasi AI

Kebijakan selalu menuai kontroversi di publik karena berdampak langsung bagi masyarakat. Salah satu kebijakan itu namanya Makan Bergizi Gratis yang biasa disebut MBG. Melansir dari laman BBC, data Kementerian Kesehatan per 5 Oktober 2025, jumlah korban keracunan terkait MBG sejak awal tahun ini telah mencapai lebih dari 11.000 orang. "Niat ingin sehat atau malah sekarat?" Lantas, bagaimana awal mula ini terjadi?

Gagasan program MBG bermula saat kunjungan ke beberapa daerah di Indonesia, dari hasil pantauan dan evaluasi mayoritas anak mengalami kekurangan gizi. Berbekal pengalaman itu maka diinisiasi program makan bergizi gratis, seperti yang telah  berjalan di India. Dibuatlah Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 mengenai  Badan Gizi Nasional dalam penyelenggaraan MBG. Kemudian, kebijakan dan strategi ini diterapkan oleh pemerintah. Badan Gizi Nasional meyakinkan masyarakat bahwa bahan baku berasal dari petani, peternak, dan nelayan terdekat. Perpres ini mensyaratkan bahwa diperlukan penyelenggaraan pemenuhan gizi bagi masyarakat.

Kebijakan Pemerintah Terdengar Ambisius

Sontak masyarakat menyambut baik saat awal peluncuran MBG. Siaran media yang menyoroti persiapan hingga konsumsi langsung MBG di sekolah-sekolah. Dalam menjalankan programnya hingga sekarang, banyak proses yang telah dilewati. Mulai dari produksi, pengemasan, distribusi, hingga dikonsumsi oleh pelajar di sekolah. Berdasarkan laman dari Badan Gizi Nasional, bahan yang diproduksi untuk MBG berasal dari hasil pangan terdekat di area pendistribusian MBG tersebut. Baik itu dari petani, nelayan, dan peternak setempat.

Menteri Koperasi saat ini, Budi Arie mengatakan bahwa dalam proses produksi MBG juga menggerakkan koperasi sekitarnya, sehingga hal ini merupakan wujud dari ekonomi sirkular. Lalu, jika bahan baku MBG berasal dari warga sekitar, mengapa masih terjadi angka 11.000 pelajar yang keracunan?

Faktor Produksi

Salah satu cerita dari seorang juru masak menjelaskan tentang proses dan tantangannya selama memproduksi MBG. Mereka bekerja dari pukul 12.00 malam dan harus selesai di pagi hari hingga paling lama yaitu pukul 12.00 siang. Jumlah porsi makanan bagi pelajar di masing-masing sekolah berbeda-beda. Juru masak, kepala mitra, dan pegawai baru bisa menyelesaikan produksi pada jam 12.30 siang. Dilain pihak, pegawai yang didominasi oleh ibu rumah tangga, hanya bekerja sesuai dengan waktu yang ditentukan yaitu selama 8 jam per hari. Hal ini membuat juru masak dan kepala mitra harus menyelesaikan produksi makanan berporsi-porsi selama 8 jam tersebut.

Produksi makanan yang sejak pukul 12.00 malam tadi, harusnya sudah siap santap sejak pukul 04.00 pagi. Porsi makanan ini untuk shift pagi yaitu bagi pelajar PAUD dan Sekolah Dasar. Makanan yang baru dimakan setelah jam 06.00 pagi, terutama sayur, tidak akan layak jika baru dimakan setelah lebih dari 6 jam seusai proses produksi. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya bakteri Salmonella, E.coli, Bacilius cereus, Stapylococcus aereus, Bacillus subtilis, hingga jamur Candida tropicalis yang terkandung dalam makanan. Sehingga, tak sedikit yang mengalami diare dan mual bagi pelajar yang mengkonsumsi MBG.

Faktor Distribusi

Jumlah porsi yang banyak memicu percepatan distribusi sesuai tenggat penyajian. Hal ini menghasilkan ketidakhigienisan dalam mencuci dan menyediakan tempat makan. Tidak dipungkiri bahwa kebersihan tempat makan juga mempengaruhi konsumen MBG. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, mengatakan bahwa mesin pendingin kurang optimal, sehingga membuat makanan tak bertahan lama saat hendak didistribusikan.

Faktor Pegawai

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, mengatakan bahwa yang menjadi pegawai dalam membantu proses produksi MBG mayoritas adalah masyarakat. Walaupun dikerjakan bersama-sama, kebiasaan setiap individu di masyarakat yaitu memasak dalam skala kecil untuk keluarga.

Manajemen memasak untuk skala besar masih menjadi tantangan besar. Hal ini perlu diselaraskan oleh Badan Gizi Nasional dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk memberikan pelatihan keamanan makanan dalam proses produksi bagi para produsen MBG. Pengawasan, monitoring, standarisasi fasilitas produksi MBG dan uji kelayakanan makanan yang diproduksi secara massal juga perlu untuk dilakukan oleh Badan Gizi Nasional, pemerintah terkait, dan mitra untuk mengurangi angka keracunan program MBG. Dalam implementasi program, dapat dipastikan ada keberhasilan dan kegagalan. Namun, penting sekali melakukan  mitigasi risiko agar terhindar dari kegagalan, atau setidaknya minim kesalahan prosedur. Keberhasilan yang diperoleh yaitu dengan menyadarkan semua pemangku kepentingan dan juga masyarakat akan pentingnya makanan bergizi.

Namun, bila tidak mencukupkan, mau tidak mau masyarakat harus menggantungkan satu kali makannya setiap hari pada program MBG ini. Angka 11.000  pelajar per 5 Oktober 2025 bukan angka yang kecil. Kegagalan yang bisa dikatakan kesalahan secara teknis nyatanya sangat merugikan masyarakat terutama pelajar hingga harus mengalami kesakitan akibat proses produksi yang tidak higienis, distribusi yang memakan waktu, hingga pengawasan yang sekadar formalitas.

Pemerintah bukan hanya mendengarkan keluhan, tetapi juga perlu mengurangi angka penyebab keluhan tersebut. Seperti yang disampaikan sendiri oleh Badan Gizi Nasional, pemantauan, pengawasan, koordinasi, dan pemilihan mitra perlu tetap menjadi sumbu dari program MBG ini.

Inovasi yang dicanangkan oleh Badan Gizi Nasional yaitu dashboard monitoring yang dapat memberikan gambaran tentang kondisi pengajuan dan progres pembangunan mitra. Hal ini perlu direalisasikan untuk mendukung kinerja dan efektifitas proses produksi hingga konsumsi MBG sehingga dapat mengurangi angka keracunan. Kemampuan adaptasi dari lembaga dalam menyelesaikan masalah yang ada perlu dioptimalkan agar masalah dapat berkurang dan program MBG bisa terus diupayakan untuk ambisi pemerintah.

Agenda Politik yang Jauh dari Kata Menyejahterakan

Tujuan dari MBG yaitu mengurangi angka kekurangan gizi bagi anak. Namun, dalam prosesnya banyak mengorbankan tujuan itu sendiri. Jauh dari tujuannya yang adalah menyejahterakan anak-anak usia sekolah. Walaupun anak-anak merasa terbantu (setelah kami bertanya langsung kepada mereka), namun sistem produksi dan agenda politik dibalik program ini patut dianalisis. Makanan yang dimasak tidak mendekati waktunya saat disajikan, mobil SPPG yang menabrak anak kecil di jalanan dan di sekolah, beberapa upah bagi para pekerja yang tak sesuai, overwork, dan masih banyak lagi. Dari sisi agenda politik, kita melihat bahwa mereka yang suatu saat akan memilih dalam pemilu, merasa berutang budi pada pemberian MBG dari pemerintah.

Menyimpul Akar

Walaupun saat sekolah, para pelajar tak mengerti apa-apa. Namun, MBG ini berpotensi menjadi gawang pengumpulan pendukung di kalangan para pelajar yang pernah menerima MBG. Terlepas dari pemberian gizi bagi anak usia sekolah, pemenuhan gizi perlu dibenahi sedari akarnya. Utamanya bagi ibu hamil yang adalah sasaran tepat dan strategis. Sehingga, dalam menciptakan solusi tidak hanya bermanfaat, tetapi tepat sasaran. Namun apadaya jika telah terjadi dugaan korupsi dalam bentuk mengurangi kandungan nutrisi biskuit bagi bayi dan ibu hamil, lalu digantikan dengan memperbanyak kandungan gula dan tepungnya? Sebagai refleksi bagi kita semua!

Referensi

  1. Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024
  2. CISDI. (2025, April 17). Evaluasi Tiga Bulan MBG, Menu Tak Sehat dan Tata Kelola Masih Perlu Dikaji Ulang. cisdi.org. CISDI diakses pada 23 Oktober 2025
  3. Gusti. Grehenson. (2025, Oktober 6). Keracunan Massal MBG, PKT UGM Sebut Skala Produksi SPPG Melebihi Kapasitas dan Minimnya Pengawasan. Universitas Gadjah Mada. UGM diakses pada 23 Oktober 2025
  4. BBC News Indonesia. (2025, Oktober 21). MBG: Ribuan kasus keracunan, sejumlah sekolah kelola dapur mandiri. BBC diakses pada 23 Oktober 2025
  5. Nadira, F. (2025, Agustus 12). KPK Selidiki Dugaan Korupsi Pengadaan Biskuit Balita dan Ibu Hamil. CNBC Indonesia. CNBC diakses pada 23 Oktober 2025
Rekomendasi

Tulisan Terbaru

Berikan Penilaian Anda

0 / 5.0

Berdasarkan 0 Suara Pembaca

© 2026 Hegemoni Lex Portal