Berbagi Suami 2.0 Sebuah Kritik Sosial Terhadap Praktik Poligami
SOSIAL & BUDAYA

Berbagi Suami 2.0 Sebuah Kritik Sosial Terhadap Praktik Poligami

E

Efrial Ruliandi Silalahi

28 Juli 2026

~ 7 min read
Copyright: Dokumentasi Kalyana Shira Films

Poligami menjadi isu yang nyatanya masih relevan sampai saat ini. Alasan ini cukup memantik penulis sekaligus sutradara film, Nia Dinata untuk membuat remake dari film Berbagi Suami (2006) melalui rumah produksi Kalyana Shira Films. Film Berbagi Suami (2006) telah berhasil meraih penghargaan Golden Maile Award sebagai Best Feature Film dalam Hawaii International Film Festival, Amerika Serikat dan juga “Movie of the Year” dari Guardians e-Awards pada tahun 2007.

Sudah dua dekade berlalu, Nia Dinata merasa isu poligami dan perempuan masih menggambarkan kondisi masyarakat saat ini. Lahirnya Berbagi Suami: 20 Tahun Kemudian merupakan bentuk kritik kerasnya terhadap dinamika poligami. Nia mengatakan bahwa dirinya cukup resah dengan isu poligami ini. Perempuan seolah menjadi objek sementara laki-laki untuk tetap memperkuat patriarki. Untuk itulah ia kembali me-remake film Berbagi Suami yang menjadi kritik kerasnya terhadap isu poligami. “Berbagi Suami dibuat sebagai kritik dari isu poligami yang sedang ramai diperbincangkan dan menjadi cermin bagi banyak perempuan Indonesia. Dua puluh tahun kemudian, ia merasa tema ini masih sangat relevan, hanya saja wajah dan bentuknya yang berubah.

Film ini mengambil lokasi di Yogyakarta, Solo, dan Jakarta. Film Berbagi Suami 2.0 menjadi film yang memantik percakapan publik mengenai poligami yang selalu diawali dengan perselingkuhan yang dilakukan para suami dan akhirnya menjadi konflik dengan para istri dan anak-anak. Terlebih lagi, para anak harus menjalani proses mematangkan emosi dan menata kehidupan jauh setelah orang tua mereka meninggal dunia, dan menyisakan keluarga-keluarga yang ditinggalkan.

Proses shooting yang dimulai tanggal 21 Mei 2026 lalu di Yogyakarta dilanjutkan ke kota Solo, dengan bagian terakhir pengambilan gambar dilakukan di Jakarta, juga mengeksplorasi kondisi sosial-budaya masyarakat di luar Jakarta dengan dinamika relasi keluarga dan posisi perempuan berkonteks sosial era digital saat ini. Perhatian publik di media maupun media sosial terhadap isu perselingkuhan dan poligami di Indonesia begitu meningkat. Para pelaku poligami dan korbannya dengan blak-blakan mengungkapkan pengalaman mereka di depan publik. Namun, dampak pada penderitaan psikologis serta penelantaran terhadap perempuan belum tersentuh secara menyeluruh.

Melalui filmnya, Nia ingin menonjolkan dinamika yang sama di era yang berbeda. Bagaimana seorang perempuan mampu menavigasi relasi, peran rumah tangga, dan kepercayaan diri di era digital saat ini. Seperti dengan versi orisinalnya, Berbagi Suami: 20 Tahun Kemudian tetap menghadirkan kisah tiga perempuan dengan latar belakang yang berbeda. Karakter lintas generasi, Kamila, Karina, dan Kianti akan menunjukkan bagaimana cara yang berbeda dalam menghadapi poligami. Ketiganya digambarkan dengan sentuhan humor, ironi, dan kehangatan emosional yang menjadi ciri khas karya Nia Dinata. Berbagi Suami: 20 Tahun Kemudian akan tampil dalam lanskap baru yang mengekspos relasi masyarakat urban. Ketiga tokohnya berasal dari generasi yang berbeda yaitu gen X, late milennial, dan gen Z.

Nia Dinata mengatakan bahwa sinema adalah ruang artistik untuk mengungkapkan keresahan dan ketidakadilan dengan luwes dan terbuka. Sudah saatnya kita mempertanyakan kembali relasi kuasa yang timpang antara istri-suami, juga anak yang sudah menjadi bagian dari sebuah perkawinan. Persoalan relasi yang tidak seimbang, luka emosional, dan posisi perempuan dalam keluarga ternyata masih sangat relevan hingga sekarang. Bedanya, di era digital seperti saat ini, konflik rumah tangga sering kali berubah jadi konsumsi publik karena ramai dibahas di media sosial. Ia juga mengatakan bahwa dua puluh tahun lalu, Berbagi Suami berbicara tentang poligami sebagai fenomena sosial yang mulai terlihat di ruang publik. Hari ini, struktur film tetap dengan tiga karakter keluarga, detail dan kondisinya mengalami perubahan sesuai dengan zaman, tetapi persoalan tentang ketimpangan relasi, luka emosional, dan posisi perempuan dalam keluarga juga sangat relevan.

Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu perselingkuhan dan poligami di Indonesia, Komnas Perempuan menyebut praktik poligami kerap diawali dengan perselingkuhan. Hal ini pun berdampak pada penderitaan psikologis serta penelantaran terhadap perempuan. Diskusi mengenai dampak mental dalam keluarga poligami juga kembali mencuat tahun 2026, termasuk sorotan para psikolog mengenai meningkatnya risiko stres kronis, kecemasan, depresi, hingga rendahnya rasa percaya diri pada perempuan dan anak dalam relasi keluarga yang timpang. Dua puluh tahun lalu, Berbagi Suami berbicara tentang poligami sebagai fenomena sosial yang mulai terlihat di ruang publik. Namun, persoalan tentang ketimpangan relasi, luka emosional, dan posisi perempuan dalam keluarga masih sangat relevan.

Film ini berangkat bukan dari penghakiman, tetapi dari sebuah ajakan untuk merasakan dampak yang sering kali disembunyikan dan dianggap normal. Banyak persoalan personal perkawinan dan keluarga berkembang menjadi sesuatu yang sensasional akibat dampak media sosial. Luka emosional dalam hubungan sering kali dinormalisasi. Padahal, dampaknya dapat berjangka panjang bagi semua pihak, termasuk anak-anak. Film ini juga merefleksikan dinamika relasi keluarga dan posisi perempuan dan anak dalam konteks sosial masa kini. Melalui film ini diharapkan dapat membuka ruang diskusi publik mengenai relasi, keluarga, dan dinamika sosial yang masih terus terjadi di tengah masyarakat modern.

Sekarang film ini sedang memasuki tahap editing, yang akan dilanjutkan dengan proses panjang pembuatan musik, lagu theme song, sound mixing dan proses pascaproduksi lainnya, yang akan dilakukan di akhir Juli hingga November 2026 yang akan datang. Proses ini akan memperhatikan detail penting khas Nia Dinata yang menghargai waktu dan proses penyelesaian film dengan sepenuh hati. Berbagi Suami 2.0 direncanakan dapat dinikmati publik di Q1 tahun 2027.

Tulisan ini merupakan rangkuman dari Siaran Pers Film “Berbagi Suami” 2.0 Karya Terbaru Nia Dinata Yang Mengkritik Poligami Akhirnya Selesai Shooting, serta bahan literatur lainnya.

Referensi

  1. Tentang Film Berbagi Suami 2.0 - Dua dekade setelah Berbagi Suami (2006) menjadi salah satu film Indonesia yang memantik diskusi publik mengenai poligami dan relasi perempuan, film ini hadir sebagai interpretasi baru yang merefleksikan dinamika keluarga dan ketimpangan relasi di era modern. Bukan kelanjutan langsung dari film sebelumnya, Berbagi Suami: 20 Tahun Kemudian menghadirkan tiga karakter utama baru dengan latar kehidupan berbeda yang dipertemukan oleh isu poligami sebagai benang merah cerita. Melalui pendekatan yang personal dan relevan dengan kondisi sosial saat ini, film ini mengeksplorasi dampak emosional perselingkuhan dan relasi yang timpang terhadap perempuan, anak, serta keluarga di tengah masyarakat Indonesia modern.
  2. Media Sosial - Email : filmberbagisuami@gmail.com; Instagram : filmberbagisuami; TikTok : film.berbagi.suami; X : berbagisuami_
Rekomendasi

Tulisan Terbaru

Berikan Penilaian Anda

0 / 5.0

Berdasarkan 0 Suara Pembaca

© 2026 Hegemoni Lex Project