
Tanah yang Kuperjuangkan, Oh Turang!
Ayu Pawitri
1 Agustus 2026
Latar hitam putih menyelimuti separuh Taman Baca Kesiman, Denpasar, Bali. Di tengah hiruk-pikuk kota, Film Turang (1957) diputar di hadapan puluhan orang yang berkumpul malam itu (26/4/2025). Film yang meneropong jauh ke belakang menghadirkan ingatan perjuangan dari masyarakat biasa. Pegunungan Bayak, Karo, menjadi lokus cerita Film Turang. Hamparan hijau pegunungan terlihat dalam layar hitam putih; ada keterbatasan untuk menyaksikan hijaunya pegunungan itu, namun ada juga rasa hangat yang sampai begitu saja ketika saya menonton film ini.
Di sebuah tempat bernama Sebaraja (sekarang Seberaya)–sebuah desa kecil di Provinsi Sumatera Utara–Rusli (Wakil Komandan) dan anak buahnya, Rangkup, tampak menjadi sorotan dengan “bendi” yang mereka kendarai dari pasar menuju tempat singgah. Mereka membawa banyak sekali garam di dalam pengangkut barang itu. Sesaat setelah Rangkup menceritakan perasaan sedihnya karena harus meninggalkan rumah dan anak istri, tentara Belanda datang dari kejauhan. Mereka memporak-porandakan barang bawaan Rusli dan Rangkup. Rangkup dan Rusli bergegas turun dan mengambil posisi bertahan; Rusli menyelipkan pistol ke dalam sarungnya. Tak lama berselang, tentara Belanda mendapati tumpukan amunisi di dalam garam yang mereka bawa.
Hanya dalam hitungan detik, tentara Belanda menembak Rangkup tepat di dadanya. Ia terkapar dan meninggal. Rusli juga terkena tembakan, namun berhasil kabur. Ia tampak terluka cukup parah. Rusli kemudian menjauh dan berhasil bertemu kawannya, di sebuah tempat yang cukup jauh dari pengawasan tentara kolonial. Di sana ia diobati, namun karena keadaan tidak kondusif, Tuah–salah satu anggota tentara kemerdekaan Indonesia–mengusulkan untuk merawat Rusli di rumah bapaknya. Mereka menyiapkan persembunyian untuk Rusli. Di sana, ia bertemu Bapak Tuah, yang juga seorang kepala desa, serta Tipi, saudari Tuah. Kedekatan hadir di antara Rusli dan Tipi. Rusli disembunyikan di balik lumbung padi keluarga Tipi. Interaksi antara Tipi dan Rusli menjadi sangat intens karena Tipi membantu merawat Rusli dalam perjuangan merebut kemerdekaan itu. Adegan demi adegan tidak terasa berlebihan dan dimonopoli oleh kisah cinta saja; semangat perjuangan tetap menjadi gestur utama dalam film ini.
Di awal film, saya sempat bertanya-tanya apa sebetulnya arti dari turang itu sendiri? Yang saya tahu saat itu, Film Turang ditayangkan secara luas sebagai bentuk perayaan “kembalinya” film ini ke tanah air. Pikiran dan hati saya terus bergerak mengikuti perjalanan nasib warga yang ada di film ini. Kebingungan saya mungkin juga terjadi karena Bachtiar Siagian memang menginginkan penonton memikirkan nasib seluruh tokoh yang berlarian di layar. Bagaimana nasib Rusli, Rangkup, Tipi, Tuah, serta semua orang yang terlibat dalam perjuangan di masa kolonial itu? Saya tahu bahwa film ini tidak hanya bicara soal perjuangan melawan kolonialisme, tetapi lebih jauh dari itu, film ini juga menangkap cerita tentang kerinduan istri dan anak pada ayahnya, kerinduan adik pada kakaknya, kekhawatiran seorang bapak terhadap anaknya, serta kecemasan lain yang datang begitu saja di masa penjajahan saat itu. Dan saya melihat film ini bercerita tentang mereka semua yang menanti pembebasan dari bangsa kolonial.
Bachtiar Siagian adalah sutradara dari Deli yang dibungkam oleh rezim paling keji di Indonesia. Karya-karyanya diberangus pasca pembunuhan massal 1965. Ia dicap komunis karena menjadi bagian dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Ia dibuang dan diasingkan ke Pulau Buru. Jejak karya-karyanya mulai disusun satu per satu oleh anak perempuannya, Bunga Siagian. Kerja-kerja ini tampak sangat berat, hingga salah satu filmnya akhirnya sampai dan bisa kita nikmati hari ini. Pekerjaan yang berat, karena selain mengumpulkan serpihan karya Bachtiar Siagian, kerja ini juga merupakan kerja yang sangat personal.
Sebagai seorang sutradara, Bachtiar mencoba merekam semangat perjuangan yang berbeda. Bahwa perjuangan tidak hanya berasal dari kalangan “atas”, namun lebih radikal: ia tumbuh dalam semangat dan hati para akar rumput di masing-masing wilayah Indonesia. Perjuangan masyarakat biasa ini justru menumbuhkan kegetiran di dalam diri saya; sebesar itu cinta dan hasrat untuk merdeka ditunjukkan dalam film ini. Bachtiar tentu saja ingin merekam dan menunjukkan bahwa orang biasa juga sangat berjasa dalam perjuangan-perjuangan kolektif merebut kemerdekaan.
Meski demikian, di awal film saya sempat merasa aneh, melihat bagaimana ia memberi porsi adegan yang cukup besar pada tentara Indonesia. Mungkin juga karena tema film ini adalah perlawanan terhadap kolonialisme. Namun kemudian saya memahami, tentara yang ada dalam film justru adalah mereka yang datang dari rakyat dan untuk rakyat. Jauh berbeda dari gambaran tentara yang saya pahami hari ini. Tentara dalam Film Turang berjuang bersama warga dalam mempertahankan tanah air mereka. Bachtiar memberi agensi pada masing-masing tokoh yang terlibat dalam filmnya. Ia tidak hanya menjadikan tentara sebagai satu-satunya institusi yang berjasa dalam perjuangan kemerdekaan, melainkan juga merekam dan memperlihatkan bagaimana warga biasa, perempuan, dan anak-anak turut berjasa dalam kerja-kerja perawatan desa, tentara, dan tanah mereka sendiri.
Tentu ini menjadi hal yang berbeda, karena film perjuangan pada umumnya hanya berbicara tentang satu agen heroik saja. Di sini, orang-orang biasa dilibatkan sebagai protagonis kolektif yang berjuang melawan kelicikan penjajahan kolonial. Satu adegan penting menurut saya adalah bagaimana kepala desa rela mempertaruhkan nyawanya untuk menyembunyikan Wakil Komandan Rusli dari serangan kolonial. Warga desa juga berperan penting dalam menyiapkan makanan bagi para pejuang. Melalui aktivitas yang kerap dianggap “biasa”–seperti mencuci, mengambil air, meladang, menganyam, dan memasak–dalam tangan Bachtiar, adegan-adegan ini menjadi bentuk perlawanan yang tampak lebih luwes dan organik.
Barangkali hidup yang tak menentu kala itu juga membuat mereka menaruh harapan pada satu sama lain. Ada dua adegan yang tampak kontras: pertama, saat tentara Belanda datang membombardir desa, warga begitu ketakutan karena mereka diperlakukan sebagai bukan manusia. Kedua, saat tentara Indonesia datang dan singgah di desa, mereka disambut hangat. Ada semacam persaudaraan yang dimunculkan dalam adegan ini. Orang-orang keluar dari rumah, bersorak-sorai, dan mengucap “Merdeka!” sepanjang jalan. Mereka bahagia, dan memiliki harapan untuk bebas dari penjajahan saat itu.
Lalu siapa turang yang dimaksudkan dalam film ini? Sampai akhir film, saya tidak menemukan jawaban yang pasti. Seorang perempuan keturunan Karo hadir di Taman Baca Kesiman malam itu. Ia membagikan pengetahuannya kepada kami semua yang bukan berasal dari Karo. Menurutnya, turang adalah sebutan untuk saudara, sebutan bagi yang terkasih, serta mereka yang menjadi bagian dari keluarga. Saya rasa, turang dalam film ini juga bisa merujuk pada rasa kekeluargaan, pada mereka yang terkasih dan telah berjuang demi kemerdekaan diri serta tanah airnya. Persaudaraan itu tampak jelas, terutama dalam adegan ketika tentara dan warga biasa saling melipur lara dengan bernyanyi bersama. Mereka menunjukkan kedekatan dan semangat perlawanan kolektif dalam melawan penindasan. Meski tiada yang tahu pada akhirnya akan indah atau semakin buruk, setidaknya mereka tetap teguh mengupayakan perlawanan. Tentu amarah dan kekecewaan juga hadir, lewat Tipi yang harus kehilangan ayahnya dan melanjutkan hidup kembali. Ada banyak hal yang harus dikorbankan dan dibayar dalam melawan penindasan dan kolonialisme, bahkan sampai hari ini.
Jika berkaca pada kehidupan pasca kemerdekaan, apakah warga sipil juga bisa merekonstruksi semangat kolektivisme dalam Film Turang? Lebih jauh lagi, apakah kita sudah benar-benar terbebas dari penindasan-penindasan itu?
Penulis: Ayu Pawitri - Direktur Eksekutif Get Plastic Foundation
Referensi
- Bachtiar Siagian | Turang | 1957 | Indonesia





